KONAWE SELATAN ,fokustime.id— Bagi sebagian orang, kehilangan pekerjaan mungkin hanya berarti kehilangan penghasilan. Namun bagi Memo, mantan operator excavator PT Wijaya Inti Nusantara (PT WIN), berhentinya aktivitas perusahaan berarti hilangnya salah satu tumpuan utama untuk menghidupi istri dan anaknya.
Dulu, setiap bulan ada penghasilan yang bisa dibawa pulang. Kini, pekerjaan tidak ada, sementara kebutuhan keluarga tetap berjalan.
Memo, warga Desa Labokeo, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, merupakan salah satu pekerja yang merasakan langsung perubahan tersebut setelah aktivitas operasional PT WIN berhenti.
Ia bekerja sebagai operator excavator di PT WIN sejak 15 Maret 2024 hingga 10 Agustus 2026. Keputusan bekerja di perusahaan tersebut saat itu bukan tanpa alasan. Selain mendapatkan penghasilan, lokasi perusahaan yang dekat dengan tempat tinggal membuatnya bisa tetap dekat dengan istri dan anak.
Selama masih bekerja, kehidupan ekonominya terbilang cukup baik. Penghasilan sekitar Rp7 juta hingga Rp9 juta per bulan sangat membantu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk kebutuhan sehari-hari dan keperluan anak.
«“Alhamdulillah sangat terbantu dan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi kebutuhan anak,” kata Memo.»
Namun, keadaan berubah setelah aktivitas PT WIN berhenti.
Kini, Memo mengaku belum memiliki pekerjaan maupun usaha lain yang dapat menjadi sumber penghasilan tetap.
«“Sekarang ekonomi susah sekali, apalagi tidak ada kerjaan,” ujarnya.»
Bukan Sekadar Kehilangan Gaji
Bagi Memo, pekerjaan di PT WIN bukan sekadar tempat menerima gaji setiap bulan. Di balik penghasilan tersebut, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi dan tanggung jawab sebagai seorang kepala keluarga.
Ketika masih bekerja, kebutuhan sehari-hari relatif dapat terpenuhi. Namun setelah kehilangan pekerjaan, semuanya terasa lebih berat.
«“Waktu masih kerja di PT WIN, kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan anak itu sangat terpenuhi,” katanya.»
Ada satu momen yang paling dirindukannya: saat menerima gaji.
Bukan hanya karena nominalnya, tetapi karena dari hasil kerja itulah Memo bisa membawa pulang sesuatu untuk istri dan anaknya.
«“Saat-saat gajian, hasil kerja ada buat istri dan anak. Saya juga rindu saat bersama kawan-kawan,” ungkapnya.»
Kini, kenangan tersebut justru menjadi bagian dari kehidupan yang ingin kembali dirasakannya.
Memo berharap PT WIN dapat kembali beroperasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Harapannya sederhana: kembali bekerja dan mendapatkan penghasilan untuk menghidupi keluarganya.
Ketika Dampaknya Menjalar ke Pedagang
Menurut Memo, berhentinya aktivitas perusahaan tidak hanya dirasakan oleh para pekerja.
Dampaknya, kata dia, ikut menjalar ke pedagang dan pelaku usaha di sekitar wilayah lingkar tambang.
Saat perusahaan masih beraktivitas, para pekerja membutuhkan makanan, minuman, kebutuhan rumah tangga, hingga berbagai keperluan lainnya. Perputaran uang pun ikut terasa di tengah masyarakat.
«“Jelas sangat terdampak. Semenjak PT WIN masih jalan, orang belanja lancar. Kalau sekarang ada, tetapi pasti sangat jauh perbandingannya,” tuturnya.»
Memo menilai ketergantungan ekonomi masyarakat sekitar terhadap aktivitas perusahaan cukup besar. Menurutnya, keberadaan perusahaan selama ini ikut menggerakkan aktivitas ekonomi warga.
«“Sangat besar ketergantungan ekonomi masyarakat. Saat ada perusahaan itu sungguh luar biasa,” katanya.»
Karena itu, bagi Memo, persoalan berhentinya aktivitas perusahaan bukan hanya tentang pekerja yang kehilangan pekerjaan. Ada keluarga, pedagang, dan masyarakat sekitar yang ikut merasakan dampaknya.
“Kami Hanya Ingin Hidup Lebih Layak”
Di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan, Memo berharap suara masyarakat yang kehilangan mata pencaharian tidak diabaikan.
Ia meminta pemerintah melihat kondisi masyarakat kecil yang menurutnya hanya ingin bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarganya.
«“Saya berharap kepada pemerintah jangan tutup mata. Kami ini masyarakat kecil yang hanya mencari nafkah buat istri dan anak. Pemerintah juga jangan tutup telinga ketika suara kami. Kami hanya ingin hidup lebih layak,” tegasnya.»
Kalimat itu menjadi salah satu harapan terbesar Memo saat ini.
Ia mengaku sangat berharap dapat kembali bekerja apabila PT WIN kembali beroperasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
«“Kalau PT WIN kembali beroperasi sesuai ketentuan yang berlaku, saya sangat berharap bisa bekerja kembali,” ujarnya.»
Masih Mengingat Bantuan untuk Desa
Di tengah cerita tentang kehilangan pekerjaan, Memo juga menyampaikan hal lain yang menurutnya menjadi bagian dari keberadaan PT WIN di tengah masyarakat.
Ia menilai selama beraktivitas, PT WIN telah memberikan sejumlah bantuan kepada desa-desa di sekitar wilayah operasional.
Menurut Memo, bantuan tersebut antara lain berupa sumur bor, perbaikan jalan, bantuan untuk masjid dan mushola, serta bantuan di bidang pendidikan.
Ia juga menyebut adanya bantuan beras kepada masyarakat desa lingkar tambang menjelang Hari Raya Idulfitri yang menurutnya dilakukan setiap tahun.
«“PT WIN selama di sini selalu memberikan bantuan ke desa seperti sumur bor, bantuan perbaikan jalan, bantuan masjid, mushola, pendidikan dan masih banyak lagi. Kalau mau Lebaran, masyarakat desa-desa lingkar tambang diberikan beras dan itu tiap tahun,” katanya.»
Bagi Memo, berbagai bantuan tersebut menjadi salah satu alasan dirinya menilai perusahaan memiliki kepedulian terhadap masyarakat sekitar.
«“Buat saya, PT WIN ini luar biasa dan sangat peduli kepada masyarakat,” ujarnya.»
Harapan yang Tersisa
Kini, setelah pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghidupan terhenti, Memo kembali berhadapan dengan ketidakpastian.
Tidak ada lagi rutinitas mengoperasikan excavator. Tidak ada lagi kepastian menerima gaji setiap bulan. Yang tersisa adalah kebutuhan keluarga yang tetap berjalan dan harapan agar suatu hari ia bisa kembali bekerja.
Bagi Memo, pekerjaan bukan sekadar soal mendapatkan gaji.
Di balik pekerjaan itu ada seorang suami yang ingin memenuhi kebutuhan istrinya, seorang ayah yang ingin memenuhi kebutuhan anaknya, dan seorang warga yang hanya ingin memiliki kesempatan untuk mencari nafkah dengan layak.
Dan dari kondisi itulah muncul satu harapan yang terus ia sampaikan:
“Jangan tutup mata, jangan tutup telinga. Kami hanya ingin bekerja dan hidup lebih layak.”
(Erik)
