KONAWE SELATAN, fokustime.id— Sebuah keputusan menghentikan aktivitas perusahaan ternyata tidak hanya menghentikan roda produksi. Bagi sebagian pekerja, keputusan itu ikut menghentikan sumber penghasilan, mengubah pola hidup keluarga, dan membuat masyarakat sekitar harus menghadapi tekanan ekonomi yang semakin terasa.
Kondisi tersebut dirasakan Erwan Saputra, warga Desa Labokeo, Kecamatan Laeya, yang sebelumnya bekerja sebagai driver truk di PT Wijaya Inti Nusantara (PT WIN) selama lebih dari dua tahun.
Sebelum aktivitas perusahaan berhenti, pekerjaan tersebut menjadi sandaran utama bagi keluarganya. Penghasilan yang diterima setiap bulan digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, kebutuhan anak, serta berbagai keperluan sehari-hari.
“Alhamdulillah, selama bekerja kebutuhan keluarga dan kebutuhan lainnya bisa terpenuhi,” ujar Erwan.
Ia mengungkapkan, saat masih bekerja di PT WIN, penghasilannya berada di kisaran Rp7 juta hingga Rp9 juta per bulan. Namun setelah aktivitas perusahaan terhenti, kondisi ekonomi keluarganya berubah drastis.
“Sekarang semua terasa sulit karena sudah tidak ada penghasilan sama sekali. Harapan saya PT WIN bisa beroperasi lagi,” katanya.
Erwan mengatakan dirinya tidak memiliki usaha sampingan karena selama ini pekerjaan di PT WIN menjadi satu-satunya sumber pendapatan keluarga.
“Tidak ada usaha sampingan, hanya mengandalkan pekerjaan di PT WIN,” ungkapnya.
Sejak kehilangan pekerjaan, ia mengaku telah berusaha mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun hingga kini, usaha tersebut belum membuahkan hasil.
“Sudah ke sana kemari mencari pekerjaan, tetapi belum juga mendapatkan,” tuturnya.
Dampak Tidak Hanya Dirasakan Pekerja
Menurut Erwan, berhentinya aktivitas PT WIN tidak hanya berdampak kepada para pekerja, tetapi juga ikut memengaruhi perekonomian masyarakat sekitar.
Perputaran ekonomi yang sebelumnya bergerak melalui aktivitas karyawan perusahaan kini mengalami penurunan. Pedagang, pemilik kios, hingga pelaku usaha kecil ikut merasakan berkurangnya pembeli.
“Pedagang sangat terdampak karena pembeli banyak berasal dari karyawan PT WIN. Sekarang penjual-penjual sudah mulai sepi,” jelasnya.
Ia melihat perubahan itu sangat terasa di lingkungan masyarakat.
“Kios jadi sepi, pasar ikut sepi. Semua serba sepi,” katanya.
Menunggu Kembalinya Aktivitas Perusahaan
Di tengah kondisi sulit tersebut, Erwan berharap ada solusi agar aktivitas perusahaan dapat kembali berjalan sehingga para pekerja bisa mendapatkan kembali mata pencaharian mereka.
“Semoga RKAB cepat terbit, supaya kami bisa kembali beraktivitas seperti semula. Harapan untuk menafkahi keluarga masih ada di PT WIN,” pungkasnya.
Bagi Erwan dan pekerja lainnya, kembalinya aktivitas PT WIN bukan hanya persoalan pekerjaan, tetapi juga tentang menghidupkan kembali ekonomi keluarga dan masyarakat yang selama ini bergantung pada perputaran ekonomi perusahaan.
(Umar)













