KONAWE SELATAN ,fokustime.id— Ketika aktivitas perusahaan berhenti, yang ikut berhenti bukan hanya roda produksi. Di tengah masyarakat lingkar tambang, sumber penghasilan ikut terputus, daya beli melemah, dan kebutuhan keluarga mulai terasa semakin berat dipenuhi.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat Desa Mondoe, Kecamatan Palangga Selatan, Kabupaten Konawe Selatan, setelah aktivitas PT Wijaya Inti Nusantara (PT WIN) tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.
Salah seorang warga Desa Mondoe, Cakir, mengaku telah bekerja selama kurang lebih dua tahun di PT WIN sebagai wakar atau penjaga barang-barang perusahaan. Selama perusahaan masih beroperasi, penghasilan yang diterimanya sekitar Rp4,5 juta per bulan dinilai sangat membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Alhamdulillah, selama masih bekerja di PT WIN, penghasilan saya sangat mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari dan keluarga. Sebagai masyarakat kecil, Rp4,5 juta itu sudah sangat membantu,” ujarnya.
Namun, kondisi tersebut berubah drastis setelah aktivitas perusahaan berhenti. Cakir mengaku kini tidak lagi memiliki pekerjaan maupun penghasilan tetap yang dapat diandalkan.
“Setelah PT WIN berhenti, sangat sulit. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan keluarga saja sekarang sangat susah,” katanya.
Menurutnya, dirinya hingga kini masih menganggur karena belum mendapatkan pekerjaan pengganti. Kesulitan mencari pekerjaan semakin terasa karena tidak banyak tersedia lowongan pekerjaan di tempat lain.
“Saya masih menganggur dan berharap PT WIN bisa beroperasi lagi. Tidak ada lowongan di tempat lain,” ungkapnya.
Tiga Anak Masih Menjadi Tanggung Jawab
Di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit, tanggung jawab keluarga tetap berjalan. Cakir mengatakan dirinya memiliki tiga anak. Dua di antaranya telah menikah, sementara satu anak belum menikah. Namun, menurutnya, ketiga anak tersebut masih menjadi bagian dari tanggung jawabnya.
“Anak saya tiga. Dua sudah menikah, satu belum, tetapi semuanya masih menjadi tanggung jawab saya,” tuturnya.
Bagi Cakir, berhentinya aktivitas perusahaan bukan sekadar kehilangan pekerjaan pribadi. Dampaknya turut dirasakan anggota keluarga dan masyarakat lain yang menggantungkan kehidupan ekonominya dari perputaran aktivitas perusahaan.
“Anggota keluarga sangat terdampak. Apalagi soal ekonomi, semuanya terasa sulit selama PT WIN berhenti,” katanya.
Efek Domino Menjalar ke Masyarakat
Dampak berhentinya aktivitas perusahaan, lanjut Cakir, juga terasa pada aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar wilayah lingkar tambang.
Menurutnya, ketika masyarakat kehilangan penghasilan tetap, kemampuan untuk berbelanja dan memenuhi kebutuhan dengan sistem kredit maupun cicilan ikut menurun.
“Contohnya, ketika perusahaan berhenti, orang-orang yang biasanya kredit beras atau mencicil kebutuhan sudah banyak yang tidak mengambil lagi karena tidak mempunyai penghasilan yang menetap,” jelasnya.
Kondisi tersebut menggambarkan adanya efek domino. Ketika pekerja kehilangan pendapatan, daya beli turun. Ketika daya beli masyarakat turun, pedagang dan pelaku usaha kecil pun ikut merasakan dampaknya.
“Yang paling terlihat sekarang banyak pengangguran di desa-desa lingkar tambang. Masyarakat sangat terdampak dengan berhentinya PT WIN,” tambahnya.
Bukan Hanya Soal Pekerjaan
Cakir juga menyampaikan bahwa keberadaan PT WIN selama ini menurutnya memberikan sejumlah bantuan kepada masyarakat Desa Mondoe.
Ia menyebut beberapa bentuk bantuan yang pernah dirasakan masyarakat, antara lain pembangunan sumur bor, bantuan pupuk dan racun hama untuk petani sawah, normalisasi kali, pembangunan lapangan sepak bola, bantuan untuk masjid, hingga bantuan beras pada momentum Idul Fitri.
Selain itu, ia menyebut perusahaan juga memberikan bantuan sapi kurban pada Idul Adha kepada masyarakat.
“Sudah sangat banyak bantuannya. Ada sumur bor, pupuk dan racun hama untuk para petani sawah, kali dinormalisasi, dibangun lapangan sepak bola untuk masyarakat, bantuan dana untuk masjid, bantuan beras setiap Idul Fitri, dan saat Idul Adha juga ada bantuan sapi kurban,” ungkapnya.
Menurutnya, berbagai bantuan tersebut telah dirasakan masyarakat sejak keberadaan perusahaan di wilayah lingkar tambang.
“Masih banyak bantuan-bantuan yang PT WIN lakukan untuk masyarakat. Bagi kami masyarakat kecil, PT WIN sangat luar biasa membantu, baik dari sisi ekonomi maupun ketenagakerjaan,” katanya.
Harapan Agar Aktivitas Kembali Berjalan
Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, Cakir berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi masyarakat lingkar tambang yang kehilangan sumber penghasilan akibat berhentinya aktivitas perusahaan.
Ia berharap PT WIN dapat kembali beroperasi seperti sebelumnya sehingga masyarakat kembali memiliki kesempatan untuk bekerja dan roda perekonomian desa dapat bergerak kembali.
“Harapan saya semoga PT WIN cepat berjalan seperti sedia kala. Kami masyarakat kecil hanya membutuhkan penghasilan agar perekonomian di desa kami bisa kembali normal,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan harapan kepada Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah memberikan perhatian terhadap kondisi masyarakat yang terdampak.
“Kami masyarakat kecil meminta kepada Presiden Prabowo supaya PT WIN bisa kembali seperti sedia kala. Harapan kami sederhana, kami hanya butuh penghasilan dan perekonomian di desa kami kembali normal,” pungkasnya.
Bagi masyarakat seperti Cakir, persoalan berhentinya aktivitas perusahaan bukan sekadar persoalan operasional. Di baliknya terdapat kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, kebutuhan pangan, serta keberlangsungan ekonomi masyarakat yang setiap hari harus tetap berjalan.
Ketika pekerjaan hilang, kebutuhan tidak ikut berhenti. Justru di situlah tekanan ekonomi masyarakat mulai terasa semakin nyata.
(Umar)
