Buol, Sulawesi Tengah ,fokustime.id– Personel SAR Kompi 4 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Sulawesi Tengah terus menunjukkan dedikasinya dalam mendukung penanganan pascabencana gempa bumi di Kabupaten Buol. Tidak hanya terlibat dalam proses evakuasi dan pembersihan material bangunan, personel juga kembali melaksanakan kegiatan trauma healing bagi anak-anak terdampak bencana sebagai upaya membantu memulihkan kondisi psikologis mereka, Sabtu (18/07).
Kegiatan trauma healing dilaksanakan dengan pendekatan yang humanis melalui berbagai permainan edukatif dan interaktif yang mampu menciptakan suasana penuh keceriaan. Personel Brimob mengajak anak-anak mengikuti setiap permainan dengan penuh keakraban, sehingga perlahan mampu mengalihkan perhatian mereka dari rasa takut dan trauma yang masih dirasakan pascagempa.
Untuk menambah semangat para peserta, personel juga menyiapkan hadiah-hadiah sederhana bagi anak-anak yang mengikuti setiap permainan. Meski bernilai sederhana, hadiah tersebut disambut dengan antusias dan kebahagiaan oleh anak-anak. Tawa dan senyum yang kembali menghiasi wajah mereka menjadi gambaran bahwa kegiatan tersebut mampu menghadirkan suasana yang lebih positif di tengah kondisi pengungsian.
Danki 4 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Sulawesi Tengah, AKP Suharyono, mengatakan bahwa pemulihan psikologis anak-anak merupakan bagian penting dari penanganan pascabencana yang tidak boleh diabaikan.
“Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami trauma setelah bencana. Melalui kegiatan trauma healing ini kami berharap mereka dapat kembali ceria, berani beraktivitas, dan perlahan melupakan rasa takut akibat gempa yang terjadi. Kehadiran personel Brimob di lokasi bencana tidak hanya untuk membantu secara fisik, tetapi juga memberikan dukungan moral dan semangat kepada masyarakat,” ujar AKP Suharyono.
Melalui kegiatan yang dilaksanakan secara berkelanjutan tersebut, SAR Kompi 4 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Sulawesi Tengah terus menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya berfokus pada pemulihan infrastruktur, tetapi juga pada pemulihan psikososial masyarakat, khususnya anak-anak. Diharapkan kegiatan trauma healing dapat membantu mengurangi dampak psikologis yang dialami para penyintas sehingga mereka mampu kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan rasa aman dan penuh harapan.
(Umar)













