Daerah

Seragam Satpam Berganti Cangkul Batu: Ratap Mantan Pekerja Tambang Saat Roda Ekonomi Torobulu Mangkrak

×

Seragam Satpam Berganti Cangkul Batu: Ratap Mantan Pekerja Tambang Saat Roda Ekonomi Torobulu Mangkrak

Sebarkan artikel ini

 

 

KONAWE SELATAN, SULAWESI TENGGARA ,fokustime.id— Berhentinya operasional PT Wijaya Inti Nusantara (PT WIN) tak hanya berdampak pada aktivitas pertambangan. Bagi sebagian mantan pekerja di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, terhentinya pekerjaan turut mengubah cara mereka bertahan hidup.

 

Salah satunya Jolan, mantan pekerja PT WIN yang sebelumnya bertugas sebagai satpam selama kurang lebih dua tahun. Setelah aktivitas perusahaan berhenti, pekerjaan yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan utama keluarga ikut terhenti.

 

Kini, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, Jolan harus beralih ke pekerjaan serabutan dengan menggali dan memecahkan batu.

 

Perubahan pekerjaan tersebut juga berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi keluarganya. Penghasilan yang diterima saat ini tidak lagi mampu menutup seluruh kebutuhan seperti ketika masih bekerja di perusahaan.

 

“Untuk biaya sekolah sangat susah. Kebutuhan rumah tangga juga sulit dipenuhi,” tutur Jolan saat diwawancarai di Desa Torobulu, Selasa (6/10/2026).

 

Menurutnya, kondisi tersebut membuat berbagai pengeluaran rumah tangga harus ditekan. Kebutuhan makan, pembayaran listrik, hingga biaya transportasi harus disesuaikan dengan kemampuan ekonomi yang ada.

 

Namun, persoalan tidak berhenti pada kebutuhan sehari-hari. Jolan juga masih harus menghadapi kewajiban finansial yang telah berjalan sebelum kehilangan pekerjaan, termasuk pinjaman bank dan cicilan sepeda motor.

 

Di tengah kondisi tersebut, biaya pendidikan anak yang kini duduk di kelas 3 SMA juga menjadi beban tersendiri.

 

Ia mengaku terkadang harus mencari pinjaman baru untuk menutupi kebutuhan yang mendesak.

 

Situasi yang dialami Jolan menggambarkan bagaimana terhentinya aktivitas perusahaan turut dirasakan hingga ke tingkat rumah tangga. Ketika pendapatan pekerja berkurang atau hilang, kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ikut tertekan.

 

Dampaknya juga dirasakan oleh sektor ekonomi kecil di sekitar kawasan lingkar tambang. Warung, pedagang makanan, penjual kebutuhan harian, hingga pelaku usaha kecil yang sebelumnya mengandalkan aktivitas pekerja tambang menghadapi berkurangnya pembeli.

 

Perputaran uang yang sebelumnya bergerak melalui aktivitas pekerja kini ikut melambat. Kondisi tersebut menambah tekanan bagi warga yang tidak lagi memiliki penghasilan tetap.

 

Bagi Jolan, kondisi ini membuat masyarakat membutuhkan perhatian dan solusi dari pemerintah, terutama terkait keberlanjutan mata pencaharian warga yang terdampak.

 

“Pemerintah jangan tutup telinga. Dengarkan kami. Kami ini masyarakat kecil yang hanya membutuhkan pekerjaan yang layak, bukan menjadi pengangguran berkepanjangan,” tegasnya.

 

Kini, cangkul dan bongkahan batu menjadi bagian dari keseharian Jolan untuk mempertahankan kehidupan keluarganya.

 

Dari seragam satpam menuju pekerjaan serabutan, perubahan itu bukan sekadar bergantinya jenis pekerjaan. Bagi warga lingkar tambang, perubahan tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana hilangnya sumber penghasilan dapat merembet hingga ke biaya sekolah, kebutuhan rumah tangga, cicilan, dan keberlangsungan hidup keluarga.

(Umar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *