Fokustime.id – KONAWE SELATAN, 8 September 2026 — Berhentinya aktivitas PT WIN di wilayah Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, mulai dirasakan masyarakat setempat. Sejumlah warga mengaku kehilangan sumber pendapatan dan mengalami penurunan daya beli sejak aktivitas perusahaan terhenti.
Dampak tersebut dirasakan salah satunya oleh Marliani, warga Dusun 2, Desa Torobulu. Ia mengatakan kondisi ekonomi keluarganya kini jauh lebih sulit dibandingkan ketika perusahaan masih beroperasi.
“Ekonomi keluarga sangat sulit, semua serba susah,” ujar Marliani saat ditemui pada Selasa (8/9/2026).
Menurut Marliani, keluarganya mengalami kehilangan pendapatan sekitar Rp4,5 juta per bulan setelah anaknya yang bekerja di perusahaan tidak lagi memperoleh penghasilan seperti sebelumnya. Pada saat yang sama, ia masih harus memenuhi kebutuhan rumah tangga dan empat orang anak.
Dampak Merembet ke Usaha Kecil
Menurut Marliani, dampak berhentinya aktivitas perusahaan tidak hanya dirasakan pekerja atau keluarga yang memiliki anggota bekerja di PT WIN. Menurunnya aktivitas ekonomi juga disebut berpengaruh terhadap usaha kecil masyarakat.
Ia mencontohkan kondisi pedagang makanan di desa yang sebelumnya dapat menjual hingga dua jumbo nasi kuning dan dagangannya biasanya habis. Kini, penjualan disebut jauh lebih sulit karena daya beli masyarakat menurun.
“Sekarang serba sulit. Pegang kepala karena susah mau laku jualan. Ada keluarga yang menjual juga. Sekarang pegang kepala karena pusing tidak laku jualan,” katanya.
Kondisi tersebut, menurut dia, menunjukkan bagaimana berhentinya aktivitas perusahaan turut memengaruhi perputaran uang di tingkat masyarakat.
Kebutuhan Rumah Tangga Mulai Dikurangi
Tekanan ekonomi juga membuat Marliani harus mengurangi atau menunda sejumlah pengeluaran rumah tangga.
“Setelah perusahaan berhenti, semua kebutuhan sehari-hari sangat sulit. Mau belanja harus ditahan, biarpun itu sudah kebutuhan keluarga sehari-hari,” ujarnya.
Ia mengatakan situasi tersebut berbeda ketika PT WIN masih beroperasi. Saat itu, pendapatan keluarga dinilai masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Dulu waktu masih beroperasi perusahaan, ekonomi kami dan kebutuhan sehari-hari alhamdulillah terpenuhi sangat baik,” kata Marliani.
Warga Meminta Kepastian
Di tengah kondisi tersebut, Marliani berharap pemerintah memberikan kepastian mengenai keberlanjutan aktivitas PT WIN serta memperhatikan masyarakat yang terdampak.
“Saya hanya berharap kepada pemerintah supaya bisa cepat memberikan kepastian agar PT WIN bisa beroperasi kembali seperti semula, karena PT WIN harapan kami sebagai masyarakat kecil,” tuturnya.
Ia mengatakan sumber mata pencaharian sebagian masyarakat di wilayah tersebut berkaitan dengan keberadaan perusahaan.
“Saya hanya ingin sampaikan kepada pemerintah, kami masyarakat kecil berharap PT WIN bisa beroperasi lagi karena mata pencaharian kami hanya PT WIN,” ujarnya.
Kekhawatiran Pengangguran Bertambah
Marliani juga menyampaikan kekhawatirannya apabila kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama. Ia menilai meningkatnya jumlah warga tanpa pekerjaan dapat semakin menekan kondisi ekonomi masyarakat.
“Yang saya khawatirkan pengangguran yang sangat banyak, perputaran ekonomi yang sangat serba sulit,” katanya.
Bagi Marliani dan warga yang terdampak, penghentian aktivitas perusahaan tidak hanya berkaitan dengan operasional sebuah badan usaha. Dampaknya dirasakan hingga tingkat rumah tangga, terutama pada pendapatan, pekerjaan, daya beli, dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Kini, masyarakat Desa Torobulu menanti kepastian mengenai kondisi tersebut. Di tengah berkurangnya sumber pendapatan dan melemahnya aktivitas ekonomi yang mereka rasakan, warga berharap ada langkah penyelesaian yang dapat memberikan kepastian terhadap mata pencaharian masyarakat.
(Erik)













