KONAWE SELATAN ,fokustime.id— Kehilangan pekerjaan tidak selalu hanya berarti kehilangan penghasilan. Bagi sebuah keluarga, berhentinya pekerjaan dapat memunculkan persoalan baru ketika kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi.
Kondisi tersebut kini dirasakan Febriansya, warga Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, setelah aktivitas PT Wijaya Inti Nusantara (PT WIN) berhenti beroperasi.
Sebelumnya, Febriansya bekerja sebagai pekerja pletmen harian di PT WIN. Ia mulai bekerja pada 25 Mei 2025. Menurutnya, posisi pletmen saat itu sebenarnya sudah penuh. Namun, karena perusahaan dinilai peduli terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasional, ia tetap diberdayakan untuk bekerja.
Dari pekerjaan tersebut, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp4 juta per bulan. Penghasilan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membantu orang tua, serta mendukung kebutuhan pendidikan adiknya.
Namun, kondisi tersebut berubah setelah aktivitas perusahaan berhenti pada 10 Agustus 2026.
Ketika Penghasilan Berhenti, Kebutuhan Tetap Berjalan
Bagi Febriansya, berhentinya pekerjaan membuat masa depan terasa tidak pasti. Ia kini harus kembali mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Saya kaget ketika mengetahui perusahaan berhenti. Kami ini masyarakat hanya mencari hidup, mencari makan,” ujarnya.
Ia mengatakan, hingga kini dirinya masih belum mendapatkan pekerjaan baru.
“Saya masih menganggur. Bingung mau kerja apa. Mana keluarga, mana kebutuhan adik, jadi saya pusing,” katanya.
Menurutnya, mencari pekerjaan baru bukan perkara mudah. Penghasilan yang sebelumnya diterima setiap bulan kini tidak lagi ada, sementara kebutuhan makan, keluarga, dan pendidikan tetap harus dipenuhi.
Dampaknya Dirasakan Masyarakat
Febriansya menilai berhentinya aktivitas perusahaan tidak hanya berdampak kepada pekerja. Masyarakat di sekitar wilayah operasional juga ikut merasakan perubahan tersebut.
Saat aktivitas perusahaan masih berjalan, pekerja memperoleh penghasilan yang kemudian berputar di tengah masyarakat. Warung makan, kios, dan usaha kecil lainnya ikut mendapatkan manfaat dari aktivitas ekonomi tersebut.
Kini, menurut Febriansya, sejumlah usaha masyarakat mulai merasakan kondisi yang berbeda.
“Kalau perusahaan masih beroperasi, masyarakat juga bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, persoalan berhentinya aktivitas perusahaan bukan hanya mengenai pekerja yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga menyangkut perputaran ekonomi masyarakat.
Bukan Sekadar Kehilangan Pekerjaan
Febriansya mengatakan, dirinya tidak hanya merindukan penghasilan yang diperoleh ketika masih bekerja.
Ia juga merindukan rutinitas bekerja, bertemu dengan rekan-rekan, dan memiliki kesempatan untuk membantu keluarganya melalui hasil kerja sendiri.
Baginya, pekerjaan menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, harapannya agar aktivitas PT WIN kembali berjalan bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi.
Ia ingin kembali melihat masyarakat memiliki kesempatan untuk bekerja dan roda ekonomi di desanya kembali bergerak.
Bantuan yang Masih Diingat
Selain kesempatan bekerja, Febriansya juga mengatakan bahwa selama ini keberadaan PT WIN menurut pengalamannya memberikan sejumlah bantuan kepada masyarakat.
Ia menyebut bantuan di bidang olahraga dan pendidikan, bantuan untuk masjid, pembangunan sumur bor, hingga pembagian beras dan mi pada momentum Idulfitri dan Iduladha.
Menurutnya, masih ada bentuk bantuan lain yang pernah dirasakan masyarakat.
Karena itu, ia berharap keberadaan perusahaan ke depan tetap memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Berharap Ada Jalan Keluar
Di tengah ketidakpastian pekerjaan, Febriansya berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi pekerja dan masyarakat yang terdampak berhentinya aktivitas perusahaan.
Ia berharap persoalan yang menyebabkan aktivitas perusahaan terhenti dapat dicarikan jalan keluar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Saya berharap perusahaan PT WIN bisa beroperasi lagi seperti sedia kala,” ujarnya.
Harapan tersebut sederhana, tetapi sangat berarti bagi dirinya. Ada kebutuhan orang tua yang harus dipenuhi, pendidikan adik yang harus tetap berjalan, serta kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa ditunda.
Bagi Febriansya, berhentinya pekerjaan bukan hanya tentang tidak lagi bekerja dari pagi hingga sore. Persoalan yang lebih berat adalah ketidakpastian mengenai bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga pada hari-hari berikutnya.
Di Desa Torobulu, pertanyaan itu kini menjadi kegelisahan bagi sebagian warga:
Ketika pekerjaan berhenti, bagaimana keluarga harus terus bertahan?
(Erik)













