TNI/POLRI

Eks Karyawan PT WIN Kehilangan Penghasilan, Ekonomi Keluarga Mulai Tertekan Setelah Operasional Terhenti

 

 

KONAWE SELATAN ,fokustime.id— Tidak semua cerita tentang berhentinya aktivitas sebuah perusahaan hanya tentang berhentinya pekerjaan. Bagi sebagian pekerja, kondisi itu berarti hilangnya sumber penghasilan yang selama ini menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dari yang sebelumnya bisa memastikan kebutuhan anak dan rumah tangga terpenuhi setiap bulan, kini harus memikirkan bagaimana bertahan di tengah kondisi tanpa pekerjaan.

 

Hal itu dirasakan Hardin, warga Desa Wawowonua, Kecamatan Palangga Selatan, Kabupaten Konawe Selatan. Setelah lebih dari dua tahun bekerja sebagai alkon di PT Wijaya Inti Nusantara (PT WIN), ia kini harus menjalani hari-hari tanpa pekerjaan setelah aktivitas kerjanya berakhir pada 10 Agustus 2026.

 

Hardin mulai bekerja di PT WIN sejak 3 April 2024. Baginya, pekerjaan tersebut bukan hanya sebagai sumber pendapatan, tetapi menjadi harapan untuk membangun kehidupan keluarga yang lebih baik. Keputusan bekerja di perusahaan itu juga karena lokasinya dekat dengan keluarga dan memberikan kesempatan bagi masyarakat lingkar tambang.

 

“Pertama karena dekat dengan keluarga, kedua tidak banyak biaya yang keluar karena bekerja di kampung sendiri, dan yang ketiga karena PT WIN membuka lowongan untuk masyarakat lingkar tambang,” ujarnya saat diwawancarai pada Kamis, 27 Agustus 2026.

 

Selama masih bekerja di PT WIN, Hardin mengaku kondisi ekonomi keluarganya berjalan stabil. Penghasilan sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta per bulan menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kebutuhan anak-anak, serta membayar cicilan.

 

“Waktu masih bekerja di PT WIN ekonomi stabil, kebutuhan sehari-hari sangat terpenuhi. Kebutuhan anak-anak juga bisa dipenuhi, termasuk bayar cicilan semua masih lancar,” katanya.

 

Namun, setelah aktivitas PT WIN berhenti, kehidupan ekonomi keluarganya mulai mengalami perubahan. Hingga saat ini, Hardin mengaku belum mendapatkan pekerjaan baru dan masih mencari jalan agar tetap bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

 

“Setelah perusahaan berhenti beroperasi, saya sangat sulit memenuhi kebutuhan keluarga, kebutuhan anak-anak, dan kebutuhan sehari-hari. Sekarang saya masih menganggur,” ungkapnya.

 

Menurut Hardin, kondisi tersebut juga dirasakan oleh sejumlah mantan pekerja lainnya yang kehilangan mata pencaharian. Ia menyebut banyak masyarakat di sekitar wilayah lingkar tambang yang selama ini bergantung pada aktivitas PT WIN.

 

“Teman-teman semua yang mencari nafkah untuk keluarganya sekarang banyak yang menganggur, karena masyarakat di sini memang banyak bergantung pada perusahaan PT Wijaya Inti Nusantara,” jelasnya.

 

Dampak berhentinya aktivitas perusahaan, kata Hardin, tidak hanya dirasakan oleh pekerja, tetapi juga ikut mempengaruhi perputaran ekonomi masyarakat sekitar. Pedagang kecil dan pelaku usaha yang sebelumnya ramai melayani kebutuhan pekerja kini mengalami penurunan aktivitas.

 

“Dulu waktu perusahaan masih berjalan banyak penjual makanan di pinggir jalan, pasar juga ramai. Sekarang sudah sepi,” katanya.

 

Hardin berharap pemerintah dapat melihat kondisi masyarakat kecil yang terdampak dan mencari solusi agar lapangan pekerjaan kembali tersedia.

 

“Saya berharap pemerintah melihat kami masyarakat kecil yang hanya mencari nafkah untuk keluarga. Kami hanya meminta pekerjaan yang lebih baik agar bisa menghidupi anak dan istri. Tolong pemerintah memperhatikan dan menerbitkan RKAB perusahaan supaya masyarakat bisa kembali mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” harapnya.

 

Ia juga berharap dapat kembali bekerja apabila aktivitas PT WIN kembali berjalan. Menurutnya, pekerjaan tersebut menjadi harapan untuk mengembalikan kestabilan ekonomi keluarganya.

 

“Saya sangat berharap bisa kembali bekerja supaya bisa menafkahi keluarga seperti waktu perusahaan masih beroperasi,” tutup Hardin.

(Erik)

Exit mobile version