KONAWE SELATAN ,fokustime.id— Ketika bendera Merah Putih berkibar dan masyarakat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan, sebagian warga Desa Mondoe, Kecamatan Palangga Selatan, Kabupaten Konawe Selatan, justru menghadapi kenyataan yang pahit.
Mereka kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan setelah aktivitas PT Wijaya Inti Nusantara (PT WIN) berhenti.
Bagi Harpin, salah seorang masyarakat Desa Mondoe sekaligus mantan pekerja PT WIN, perayaan kemerdekaan tahun ini terasa berbeda. Bukan kemeriahan yang paling ia pikirkan, melainkan bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga setelah kehilangan pekerjaan.
“Di hari kemerdekaan ini kami jadi pengangguran serentak,” kata Harpin.
Ia mengaku kondisi ekonomi keluarganya kini jauh berbeda dibandingkan ketika masih bekerja di PT WIN.
Sebelumnya, Harpin bekerja sebagai driver di perusahaan tersebut sejak 23 Agustus 2024 hingga 10 Agustus 2026. Ia memilih pekerjaan itu karena lokasinya dekat dengan keluarga dan berada di wilayah tempat tinggalnya sendiri.
Selama bekerja, penghasilan sekitar Rp7 juta hingga Rp9 juta per bulan cukup membantu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membayar berbagai kewajiban.
Namun, setelah aktivitas perusahaan berhenti, sumber penghasilan itu ikut terhenti.
“Sekarang kondisi ekonomi sangat buruk, buat makan saja susah,” ujar Harpin.
Harpin mengatakan, hingga kini dirinya belum mendapatkan pekerjaan lain. Tidak ada penghasilan tetap yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Selain di PT WIN, saya tidak punya penghasilan lain,” katanya.
BUKAN HANYA HARPIN, MANTAN PEKERJA LAIN JUGA TERDAMPAK
Harpin menyebut persoalan yang dialaminya bukan hanya dirasakan seorang diri.
Sejumlah mantan pekerja PT WIN, menurut dia, mengalami kondisi serupa. Mereka yang sebelumnya memiliki pekerjaan dan penghasilan kini harus menghadapi ketidakpastian.
“Ya, kami bernasib sama. Kami sama-sama jadi pengangguran setelah perusahaan tutup,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat kehilangan pekerjaan tidak hanya menjadi persoalan pribadi para pekerja, tetapi juga berpengaruh terhadap kehidupan keluarga mereka.
Ketika penghasilan berhenti, kebutuhan rumah tangga tetap berjalan. Makanan harus tersedia, kebutuhan anak harus dipenuhi, dan berbagai kewajiban keluarga tetap harus dibayar.
PASAR DAN KIOS IKUT SEPI
Harpin juga menggambarkan bagaimana berhentinya aktivitas perusahaan turut memengaruhi perputaran ekonomi masyarakat di sekitar wilayah tersebut.
Saat perusahaan masih beraktivitas, pasar dan kios-kios di sekitar desa disebut ramai oleh para pekerja yang berbelanja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kini, kondisi itu disebut berubah.
“Dulu pasar dan kios-kios selalu ramai. Sekarang mungkin bisa dihitung saja beberapa orang yang berbelanja,” ujarnya.
Menurut Harpin, keberadaan aktivitas perusahaan sebelumnya turut memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat Desa Mondoe.
Ia menyebut sebagian besar masyarakat menggantungkan penghidupan dari aktivitas yang berkaitan dengan perusahaan.
“Ketika perusahaan masih beraktivitas, ekonomi sangat membaik,” tuturnya.
Bagi Harpin, yang hilang bukan hanya pekerjaan dan gaji. Ia juga kehilangan rutinitas dan kebersamaan bersama rekan-rekan kerja yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya.
KEMERDEKAAN DI TENGAH KEHILANGAN PEKERJAAN
Bagi Harpin dan para mantan pekerja lainnya, Hari Kemerdekaan tahun ini menjadi momentum yang terasa getir.
Di saat masyarakat merayakan kemerdekaan, mereka justru dihadapkan pada persoalan paling mendasar: bagaimana mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Harpin berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi masyarakat yang terdampak.
“Harapan kami pemerintah jangan tutup mata. Di hari kemerdekaan ini kami jadi pengangguran serentak,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi masyarakat sekaligus membuka ruang agar PT WIN dapat kembali beroperasi sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.
“Kami berharap pemerintah bisa memberikan izin PT WIN agar bisa beroperasi kembali,” ujarnya.
Jika perusahaan kembali beraktivitas, Harpin mengaku sangat berharap dapat kembali bekerja.
“Ya tentu, saya sangat mengharapkan PT WIN bisa beroperasi kembali. Yang saya harapkan saya bisa bekerja kembali,” katanya.
BUKAN MINTA DIKASIHANI, HANYA INGIN KEMBALI BEKERJA
Harapan Harpin sebenarnya sederhana.
Ia tidak meminta kemewahan. Ia hanya ingin kembali mendapatkan pekerjaan agar bisa memperoleh penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarganya.
Sebab bagi masyarakat kecil, pekerjaan bukan sekadar aktivitas mencari uang. Pekerjaan adalah sumber kehidupan.
Dari penghasilan itulah kebutuhan makan dipenuhi, anak-anak mendapatkan kebutuhan mereka, cicilan dibayar, dan keluarga dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang.
Karena itu, di tengah perayaan kemerdekaan, suara Harpin menjadi gambaran kegelisahan sebagian masyarakat yang kehilangan mata pencaharian.
“Buat makan saja susah,” kata Harpin.
Kalimat sederhana itu menggambarkan beratnya kondisi yang kini dihadapi setelah kehilangan pekerjaan.
Bagi mereka, kemerdekaan bukan hanya tentang berkibarnya Merah Putih atau ramainya perayaan 17 Agustus.
Kemerdekaan juga berarti memiliki kesempatan untuk bekerja, memperoleh penghasilan, menghidupi keluarga, dan menjalani kehidupan tanpa dihantui ketidakpastian.
Kini, Harpin bersama para mantan pekerja lainnya hanya berharap satu hal: agar suara mereka didengar dan kesempatan untuk kembali bekerja dapat terbuka.
(Erik)













