TNI/POLRI

Darah Komando dari Bima: Kisah Kapten Inf Dr. Gintur, Tempa Dua Putra Jadi Perwira Elit Kopassus dan Kopasgat di Tengah Keterbatasan

 

 

BIMA, NTB, fokustime.id– Di balik kokohnya pertahanan negara, ada kisah sunyi seorang prajurit sejati asal Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Kapten Inf Dr. M. Gintur, S.H., M.H. Sosok ayah yang dikenal disiplin tinggi ini berhasil membuktikan bahwa didikan keras berlandaskan cinta kasih mampu melahirkan ksatria bangsa. Dua putra kandungnya, *Lettu Pas M. Iqbal Fahriyansyah, S.Tr.Han.* (Batalyon Para Komando 466 Kopasgat) dan *Letda Inf M. Akbar, S.Tr.Han.* (Grup 1 Kopassus), kini resmi menjadi bagian dari pasukan elit TNI.

 

Dalam sebuah pesan haru yang menyentuh relung jiwa, Kapten Gintur mengungkapkan bahwa didikan keras yang ia terapkan dulu—tempaan mental baja di tengah keterbatasan—bukanlah siksaan, melainkan bekal agar kedua anaknya tak patah diterjang badai penugasan.

 

“Dulu ayah pergi demi tugas negara, kini ayah lepaskan kalian untuk menjaga negara itu. Sedih raga berjarak, bangga jiwa berpadu,” ujar Kapten Gintur dengan nada haru.kamis 14 Mei 2026

 

Kini, buah didikan keras itu terbayar lunas. Dua elang muda dari tanah Bima, M. Iqbal dan M. Akbar, telah bersumpah untuk berintegritas, menjadikan kehormatan sebagai napas, dan siap menjadi benteng NKRI. Prestasi ini menjadi kado terindah bagi tanah Bima, membuktikan putra NTB mampu menembus kerasnya akademi militer dan satuan elite.

 

“Seorang Kapten tak hanya melatih prajurit, ia melatih darah dagingnya untuk siap mati demi ibu pertiwi. Kebanggaan tertinggi adalah melihat anak-anakku meneruskan jejak, menjadi tameng negara yang tak tergoyahkan.”

 

“Setiap bentakan ayah adalah doa yang dibungkus disiplin. Ayah tahu, dunia komando tidak mengenal belas kasihan, maka ayah menempa kalian agar dunia tak mampu mematahkan kalian.”

 

 

“Antara Bima dan medan tugas, jarak terbentang. Namun, darah Bima yang mengalir di tubuh Iqbal dan Akbar membuat jarak itu terasa sedekat detak jantung seorang prajurit. Sedih raga berjarak, bangga jiwa berpadu.”

 

“Lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas. Jadilah prajurit yang lebih hebat dari ayahmu ini. Jadilah perwira berintegritas, karena pangkat bisa dibeli, tapi kehormatan komando adalah harga mati.”

 

“Iqbal di Kopasgat, Akbar di Kopassus. Dua elang muda dari NTB. Jadilah perwira yang dicintai bawahan, disegani lawan, dan selalu sujud pada Tuhan.”

 

“Di akademi ini, kalian dididik untuk tidak kenal rasa takut, kecuali takut kepada Tuhan. Teruskan perjuangan, Calon Jenderal dari Bima. Ayah selalu berdiri di belakangmu, bangga sebagai orang tua, dan hormat sebagai sesama prajurit.”

(Iqbal)

Exit mobile version