Morowali,fokustime.id – Perusahaan PT. Baoshuo Taman Industry Invesment Grup (BTIIG) secara resmi telah melakukan penyerahan dana tali asih sebagai bentuk kompensasi alih fungsi jalan tani di Desa Topogaro Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten Morowali, Propinsi Sulawesi Tengah untuk pembangunan kawasan industri PT. Indonesia Huabao Industrial Park (IHIP).

Hal ini dibuktikan dengan adanya bukti transfer pada tanggal 2 Maret 2026 dari pihak PT. BTIIG kepada Tim Tali Asih Desa Topogaro dengan keterangan untuk Pembayaran Tali Asih Desa Topogaro. Kemudian, penyaluran dana tali asih dimulai pada 6 Maret 2026, secara perdana kepada masyarakat desa Topogaro.

Meski masyarakat mengaku bersyukur atas pembayaran tali asih alih fungsi jalan tani Desa Topogaro yang diberikan pihak perusahaan, akan tetapi mulai dari administrasi, nominal hingga penyaluran masih menyisahkan sejumlah tanya bagi sebagian masyarakat karena minimnya transparansi.

Menurut sumber yang tidak bersedia namananya dimediakan, ada beberapa persoalan yang masih dianggap janggal karena kurangnya transparansi mengenai proses hingga penyaluran dana tali asih ini. Pertama, hingga saat ini, belum jelas jumlah sebenarnya soal nominal dana tali asih yang diberikan PT. BTIIG kepada masyarakat Desa Topogaro melalui Tim Tali Asih Desa Topogaro.
Kalau berdasarkan bukti transfer dari pihak perusahaan itu sebesar kurang lebih Rp 3,5 M. Akan tetapi disisi lain, ada informasi bahwa total dana tali asih tersebut sebesar Rp 4 Milyar. Sedangkan ketika sebagian masyarakat mempertanyakan kepada pihak perusahaan, justru tidak menemukan kejelasan.
Kedua, transparansi mengenai ruas jalan tani yang dimaksud dalam kompensasi alih fungsi jalan tani sehingga melahirkan dana talih asih. Untuk itu, pihak perusahaan maupun tim tali asih Topogaro diminta untuk transparan dengan membuka kontrak ke publik, khususnya kepada masyarakat desa Topogaro.
Pasalnya, ada ruas jalan tani yang disetujui dan ada pula yang tidak diserahkan. Ruas jalan tani yang diserahkan adalah jalan tani persawahan yang saat ini sudah terbangun smelter PT. Hanrui Nickel Indonesia. Sedangkan ruas jalan tani Topogaro menuju Dusun Folili, tidak diserahkan untuk dialih fungsikan.
Ketiga, keterbukaan atau transparansi pembagian dana tali asih kepada masyarakat. Bukan tanpa alasan, sebab diketahui setelah adanya pembayaran dana tali asih, hingga kini tidak ada rapat terbuka mengenai mekanisme pembagian kepada masyakat. Sehingga dikhawatirkan ada pihak yang mengambil keuntungan pribadi dan kelompoknya dalam penyaluran dana tali asih ini.
Kepala Desa Topogaro, Hamid, saat dikonfirmasi memilih bungkam. Pesan WhatsApp yang dikirimkan wartawan meski centang dua, namun tidak mendapat balasan. Begitu pula, Iqro Rabik selaku Ketua Tim Tali Asih Jalan Tani Desa Topogaro yang dihubungi wartawan media ini.
(Umar)












