Maros ,fokustime.id– Warga Dusun Cindakko, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, kembali menelan pil pahit akibat keterisolasian wilayah mereka. Heri (32), seorang warga setempat, harus ditandu menggunakan sarung sejauh hampir 4 kilometer setelah terpeleset di sungai dan mengalami cedera parah, Minggu (6/4).
Karena tidak adanya akses kendaraan menuju lokasi, keluarga dan warga terpaksa mengevakuasi Heri dengan cara tradisional melewati medan berbukit dan jalan setapak. “Tidak bisa pakai mobil. Hanya jalan kaki yang bisa,” jelas Kepala Desa Bonto Somba, Suparman, Senin (7/4/2025).
Insiden ini memantik amarah warga yang selama ini merasa dianaktirikan. Mereka menilai Pemkab Maros terlalu fokus membangun fasilitas di pusat kota, sementara desa-desa di pelosok seperti Cindakko justru terabaikan.
“Setiap tahun miliaran digelontorkan untuk proyek taman, tugu, dan drainase di kota, tapi jalan desa kami tak pernah dilirik,” kata salah seorang warga.
Data yang dihimpun dari dokumen APBD Kabupaten Maros menunjukkan bahwa pada tahun anggaran 2024, lebih dari Rp 25 miliar dialokasikan untuk pembangunan dan penataan kawasan kota, termasuk proyek revitalisasi alun-alun, pembangunan tugu, dan peningkatan trotoar. Sementara itu, anggaran untuk infrastruktur jalan desa di Kecamatan Tompobulu hanya mendapat alokasi sekitar Rp 2,5 miliar, itupun tersebar di beberapa titik.
“Bayangkan, kota sudah ada jalan hotmix, tapi kami di sini angkut orang sakit pakai sarung. Ini bukan ketimpangan lagi, ini bentuk ketidakadilan,” ujar warga lainnya.
Warga mendesak Pemkab Maros menghentikan proyek-proyek yang dinilai tidak menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Mereka meminta agar dana yang besar itu dialihkan untuk pembangunan jalan beton sepanjang 4 hingga 5 kilometer ke Dusun Cindakko.
“Bukan kami iri, tapi nyawa manusia di desa juga penting. Kami butuh jalan, bukan tugu baru,” tegas warga dengan nada kecewa.
Lebih dari itu, warga juga mulai menagih janji-janji politik yang dulu digaungkan saat masa kampanye. Mereka berharap Pemkab Maros tidak hanya hadir saat pemilihan, tapi juga saat rakyat di pelosok membutuhkan.
“Kalau tidak bisa bangun kota dan desa secara bersamaan, setidaknya prioritaskan wilayah yang paling tertinggal. Jangan korbankan kami demi proyek kosmetik di pusat kota,” tutup warga dengan nada tajam.
Peristiwa ini membuka mata bahwa pemerataan pembangunan di Maros masih jauh dari harapan. Saat sebagian warga menikmati fasilitas modern, sebagian lainnya masih bertaruh nyawa di jalan rusak.
(LLGg)
