Daerah

Kemerdekaan Ke-81 Di Tengah PHK: Ketika Pekerja Kehilangan Penghasilan Di Mana Kehadiran Negara? 

KONAWE SELATAN, fokustime.id— Pagi itu, bendera Merah Putih mungkin akan kembali berkibar di halaman rumah-rumah warga. Lagu kebangsaan akan dinyanyikan. Upacara akan digelar. Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia akan dirayakan dengan penuh semangat.

 

Namun, di balik merah putih yang berkibar, ada keluarga yang sedang menghitung sisa uang di dompet.

 

Ada kebutuhan anak yang harus dipenuhi. Ada kebutuhan dapur yang tidak bisa ditunda. Ada cicilan yang tetap berjalan. Dan ada seorang ayah yang kini harus mencari pekerjaan serabutan setelah kehilangan sumber penghasilan tetap.

 

Namanya Asri.

 

Warga Desa Wawowonua, kecamatan palangga selatan Kabupaten Konawe Selatan, itu pernah merasakan bagaimana sebuah pekerjaan mampu mengubah kehidupan keluarganya.

 

Ia mulai bekerja sebagai tenaga sampel di PT Wijaya Inti Nusantara (PT WIN) pada 13 April 2025.

 

Bagi sebagian orang, pekerjaan mungkin hanya berarti rutinitas dan gaji setiap bulan.

 

Bagi Asri, pekerjaan itu adalah kepastian.

 

Ia memperoleh penghasilan sekitar Rp4,3 juta, ditambah tunjangan sekitar Rp600 ribu. Uang tersebut menjadi penopang kehidupan rumah tangganya—untuk memenuhi kebutuhan istri, anak, makanan, dan berbagai kebutuhan keluarga lainnya.

 

“Saya bekerja di PT WIN karena kondisi ekonomi sebelumnya sangat tidak stabil. Setelah bekerja, ekonomi saya sangat stabil dan kebutuhan istri serta anak bisa saya penuhi,” ungkap Asri.

 

Selama memiliki pekerjaan, ia tidak harus bertanya setiap hari dari mana uang untuk kebutuhan keluarga akan datang.

 

Tetapi kepastian itu tidak berlangsung selamanya.

 

Pada 10 Agustus 2026, perjalanan Asri sebagai pekerja di PT WIN harus berakhir.

 

Sejak saat itu, rutinitasnya berubah.

 

Yang sebelumnya bekerja dengan penghasilan tetap, kini ia harus mengandalkan pekerjaan serabutan dengan pendapatan yang tidak menentu.

 

Perubahan itu bukan sekadar perpindahan pekerjaan.

 

Bagi sebuah keluarga, kehilangan pekerjaan berarti kehilangan kepastian.

 

“Setelah perusahaan berhenti, semua harapan seperti jatuh. Kebutuhan istri dan anak menjadi persoalan terbesar,” katanya.

 

Kalimat itu sederhana.

 

Namun di baliknya ada kecemasan seorang kepala keluarga yang tidak lagi memiliki pendapatan seperti sebelumnya.

 

KETIKA GAJI BERHENTI, PERPUTARAN EKONOMI IKUT MELAMBAT

 

Dampak berhentinya aktivitas perusahaan tidak berhenti di pintu rumah para pekerja.

 

Ia bergerak lebih jauh.

 

Dari pekerja menuju kios-kios kecil. Dari kios menuju pedagang ikan. Dari pedagang menuju keluarga-keluarga yang menggantungkan penghasilan pada perputaran ekonomi di sekitar aktivitas perusahaan.

 

Satu pekerjaan yang hilang dapat berarti satu pelanggan yang berkurang.

 

Satu penghasilan yang terhenti dapat berarti satu keluarga mengurangi belanja.

 

Dan ketika itu terjadi pada banyak keluarga sekaligus, dampaknya perlahan terasa di tengah masyarakat.

 

Asri melihat sendiri perubahan tersebut.

 

Menurutnya, bukan hanya dirinya yang mengalami kesulitan setelah aktivitas PT WIN berhenti. Rekan-rekan kerjanya juga menghadapi persoalan yang sama.

 

Sebagian harus kembali bekerja serabutan untuk mempertahankan kehidupan keluarga.

 

Pedagang kios dan penjual ikan pun ikut merasakan turunnya daya beli masyarakat.

 

“Jelas sangat terasa. Pedagang kios-kios dan penjual ikan juga terdampak,” ujar Asri.

 

Di sinilah persoalan menjadi lebih besar dari sekadar PHK.

 

Sebab sebuah perusahaan yang beroperasi di tengah masyarakat tidak hanya menciptakan hubungan antara perusahaan dan pekerja.

 

Ada rantai ekonomi yang tumbuh di sekelilingnya.

 

Ada warung yang hidup karena pekerja berbelanja.

 

Ada pedagang yang bertahan karena kebutuhan pekerja.

 

Ada transportasi, jasa, dan usaha kecil yang ikut bergerak karena daya beli masyarakat.

 

Ketika aktivitas itu berhenti, rantai tersebut ikut melambat.

 

Asri memperkirakan sekitar 75 persen perekonomian masyarakat di lingkar tambang bergantung pada keberadaan aktivitas PT WIN.

 

Angka itu, jika benar menggambarkan kondisi lapangan, menunjukkan betapa kuatnya ketergantungan ekonomi masyarakat terhadap keberadaan perusahaan.

 

DARI KEPASTIAN MENJADI KETIDAKPASTIAN

 

Ada hal lain yang dirasakan Asri selain kehilangan pendapatan.

 

Ketika masih bekerja, ia merasakan adanya hubungan sosial antara pekerja, masyarakat dan lingkungan sekitar.

 

Ada kebersamaan.

 

Ada kepedulian.

 

Ada rasa saling membutuhkan.

 

Karena itu, ketika aktivitas perusahaan berhenti, yang hilang baginya bukan hanya pekerjaan.

 

Sebagian rasa aman dalam menjalani kehidupan juga ikut menghilang.

 

“Kami sangat kesulitan ketika PT WIN sudah tidak berada di daerah kami,” katanya.

 

Kini, pekerjaan serabutan menjadi pilihan untuk tetap bertahan.

 

Tetapi pekerjaan serabutan tidak selalu menghadirkan kepastian penghasilan.

 

Hari ini ada pekerjaan, besok belum tentu.

 

Hari ini ada uang untuk dibawa pulang, esok masih harus dicari.

 

Sementara kebutuhan keluarga tidak mengenal kata berhenti.

 

Anak tetap membutuhkan biaya.

 

Dapur tetap harus mengepul.

 

Kebutuhan rumah tangga tetap datang setiap hari.

 

Di titik inilah persoalan ekonomi berubah menjadi persoalan kemanusiaan.

 

MERAH PUTIH BERKIBAR, TETAPI DAPUR HARUS TETAP MENYALA

 

Agustus selalu membawa suasana yang berbeda.

 

Jalan-jalan dihiasi bendera.

 

Anak-anak mengikuti perlombaan.

 

Masyarakat berkumpul merayakan hari kemerdekaan.

 

Tetapi bagi keluarga yang kehilangan pekerjaan, makna kemerdekaan dapat terasa sangat berbeda.

 

Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan.

 

Kemerdekaan juga berbicara tentang kesempatan untuk hidup layak.

 

Tentang pekerjaan.

 

Tentang penghasilan.

 

Tentang kemampuan seorang ayah memenuhi kebutuhan anaknya tanpa harus dihantui pertanyaan: besok makan dari mana?

 

Asri tidak meminta sesuatu yang berlebihan.

 

Ia hanya berharap pekerjaan kembali tersedia.

 

Ia berharap ekonomi masyarakat kembali bergerak.

 

Dan ia berharap pemerintah melihat kondisi masyarakat yang terdampak bukan hanya sebagai angka dalam laporan, tetapi sebagai keluarga yang memiliki kebutuhan nyata.

 

“Di hari kemerdekaan ke-81, seharusnya bukan hadiah PHK yang kami terima. Kami berharap hadiah yang diberikan adalah kesejahteraan masyarakat dan pekerjaan yang layak,” tegasnya.

 

Kalimat itu menjadi semacam gugatan moral.

 

Bukan gugatan kepada satu pihak semata, melainkan pertanyaan tentang bagaimana negara hadir ketika masyarakat kehilangan sumber penghidupannya.

 

Sebab di tengah perayaan kemerdekaan, ukuran kesejahteraan tidak selalu terlihat dari kemeriahan panggung atau banyaknya perlombaan.

 

Kadang, ukurannya justru sesederhana seorang ayah yang mampu membawa pulang uang untuk membeli beras.

 

Atau seorang ibu yang tidak lagi harus cemas memikirkan kebutuhan anaknya.

 

Atau seorang pedagang kecil yang kembali melihat pembeli datang ke kiosnya.

 

HARAPAN YANG BELUM PADAM

 

Meski kehilangan pekerjaan, Asri belum kehilangan harapan.

 

Ia masih berharap PT WIN dapat kembali beroperasi.

 

Bukan semata-mata demi perusahaan.

 

Tetapi demi roda ekonomi masyarakat yang selama ini ikut bergerak bersamanya.

 

“Kami masyarakat sangat berharap dan mendoakan PT WIN bisa beroperasi kembali dan menstabilkan ekonomi kami. Yang paling jelas, kami ingin ekonomi kembali stabil,” ujarnya.

 

Harapan itu mungkin terdengar sederhana.

 

Namun bagi masyarakat yang kehilangan pekerjaan, stabilitas ekonomi bukanlah kemewahan.

 

Itulah kebutuhan dasar.

 

Sebab ketika penghasilan stabil, keluarga dapat merencanakan kehidupan.

 

Ketika pekerjaan tersedia, anak-anak dapat terus sekolah.

 

Ketika daya beli masyarakat terjaga, kios kecil kembali memiliki pembeli.

 

Dan ketika ekonomi bergerak, masyarakat tidak harus menjalani hari dengan ketidakpastian.

 

KEMERDEKAAN YANG HARUS DIRASAKAN DI MEJA MAKAN

 

Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka.

 

Tetapi bagi Asri dan masyarakat yang mengalami situasi serupa, kemerdekaan memiliki pertanyaan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

Apakah seorang pekerja yang kehilangan pekerjaan masih dapat merasakan kemerdekaan ketika kebutuhan keluarganya tidak mampu dipenuhi?

 

Apakah seorang pedagang kecil dapat merasakan kemerdekaan ketika pembeli semakin sedikit?

 

Dan apakah kemerdekaan benar-benar terasa sampai ke pelosok daerah jika masyarakat masih harus berjuang sendirian menghadapi kehilangan mata pencaharian?

 

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban dalam bentuk pidato.

 

Ia membutuhkan kebijakan.

 

Ia membutuhkan perhatian.

 

Ia membutuhkan keberpihakan kepada masyarakat.

 

Dan yang paling penting, ia membutuhkan kehadiran negara ketika kehidupan rakyat sedang berada dalam tekanan.

 

Sebab bagi mereka yang sedang kehilangan pekerjaan, kemerdekaan bukan sekadar bendera yang berkibar di depan rumah.

 

Kemerdekaan adalah ketika seorang ayah masih mampu mengatakan kepada anaknya:

 

“Besok kita makan. Besok kita sekolah. Besok kita masih punya harapan.”

 

Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya ingin dirasakan Asri.

 

Bukan hadiah PHK.

 

Bukan sekadar seremoni.

 

Melainkan pekerjaan yang layak, ekonomi yang stabil, dan kesempatan bagi masyarakat untuk kembali berdiri dengan kekuatan sendiri.

 

Karena Merah Putih akan terus berkibar. Tetapi bagi rakyat kecil, kemerdekaan baru benar-benar terasa ketika dapur tetap menyala dan masa depan anak-anak tetap memiliki harapan.

(Erik)

Exit mobile version