KONAWE SELATAN, SULAWESI TENGGARA, fokustime.id— Berhentinya operasional PT Wijaya Inti Nusantara (PT WIN) berdampak pada perputaran ekonomi masyarakat di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan.
Dampak tersebut dirasakan Sudirman, pedagang ikan di Dusun I Torobulu. Saat ditemui pada Rabu, 7 Oktober 2026, ia mengaku omzet penjualan ikannya mengalami penurunan drastis sejak aktivitas PT WIN berhenti beroperasi.
Sebelum PT WIN berhenti beroperasi, Sudirman menyebut omzet penjualan ikannya bisa mencapai sekitar Rp2 juta per hari. Saat itu, ikan yang dijual hampir selalu habis karena banyak pekerja tambang menjadi pelanggan.
Namun, setelah aktivitas PT WIN berhenti, omzetnya kini hanya sekitar Rp500 ribu per hari, bahkan terkadang tidak mencapai angka tersebut.
Artinya, berdasarkan perbandingan omzet yang disampaikan Sudirman, pendapatan dari usaha ikannya mengalami penurunan sekitar 75 persen.
«“Waktu ada tambang, dapat Rp2 juta dalam sehari. Semua ikan laku dan habis terjual. Setelah PT WIN berhenti, sekitar Rp500 ribu, itu pun kadang tidak cukup,” ujar Sudirman.»
Menurutnya, perubahan paling terasa terlihat dari jumlah pembeli yang semakin berkurang. Ikan yang sebelumnya cepat habis kini sering tersisa.
«“Sangat sunyi orang membeli ikan sekarang. Dulu anak-anak tambang setiap hari membeli ikan,” katanya.»
Untuk mengurangi kerugian, ikan yang tidak terjual terpaksa disimpan menggunakan es dan kembali dijual pada hari berikutnya. Kondisi tersebut juga membuat Sudirman mengurangi jumlah ikan yang dibeli dari pemasok karena modal usahanya ikut terdampak.
Penurunan omzet tersebut turut memengaruhi kemampuan Sudirman dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia mengaku mulai kesulitan membayar kebutuhan sehari-hari, listrik, biaya sekolah anak, hingga cicilan kendaraan.
«“Sekolah anak-anak sangat sulit, bayar listrik sangat sulit, bayar motor juga sulit,” ungkapnya.»
Sudirman menilai berhentinya aktivitas PT WIN tidak hanya berdampak kepada pekerja tambang, tetapi juga ikut menekan usaha kecil yang selama ini bergantung pada perputaran uang dari aktivitas pertambangan.
Menurutnya, ketika pendapatan pekerja tambang berkurang atau berhenti, daya beli masyarakat di sekitar wilayah tambang ikut menurun. Kondisi itu kemudian dirasakan para pedagang dan pelaku usaha kecil.
Ia khawatir kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama dan semakin banyak warga kehilangan sumber penghasilan.
«“Yang saya khawatirkan ekonomi di desa kami hancur dan orang-orang banyak menjadi pengangguran,” ujarnya.»
Sebagai warga yang menggantungkan kehidupan dari usaha kecil, Sudirman berharap pemerintah memperhatikan kondisi masyarakat di desa-desa lingkar tambang yang terdampak berhentinya aktivitas perusahaan.
Ia juga berharap aktivitas PT WIN dapat kembali berjalan sehingga perputaran ekonomi masyarakat Torobulu kembali hidup.
«“Kami sebagai warga hanya ingin hidup lebih layak dan punya penghasilan yang layak untuk menghidupi anak dan istri,” pungkasnya.»
(Erik)













