TNI/POLRI

Dari Keluarga Kurang Mampu di Maros, Hikmal Menembus Jalan Pengabdian hingga Bertugas dalam Pengamanan Presiden

×

Dari Keluarga Kurang Mampu di Maros, Hikmal Menembus Jalan Pengabdian hingga Bertugas dalam Pengamanan Presiden

Sebarkan artikel ini

 

 

Fokustime.id Anambas Riau — Tidak banyak yang menyangka, dari sebuah dusun kecil di Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, lahir seorang pemuda yang kini mendapat kepercayaan mengemban tugas sebagai prajurit TNI Angkatan Darat dalam persiapan pengamanan kunjungan Presiden Republik Indonesia pada Minggu 13 September 2026.

 

Pemuda itu bernama Hikmal. Usianya baru sekitar 20 tahun. Ia merupakan putra pasangan Latif dan Rosmini, warga Dusun Manjalling, Desa Alatengae, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros.

 

Hikmal tumbuh dari keluarga kurang mampu. Sang ayah bekerja sebagai petani dengan kehidupan yang sederhana. Tidak ada kemewahan yang mengiringi masa kecilnya. Namun, dari keterbatasan itulah justru tumbuh tekad besar dalam diri Hikmal.

 

Dari bangku sekolah hingga seragam TNI. Perjalanan Hikmal dimulai dari sekolah yang berada tidak jauh dari kampung halamannya.

 

Ia mengenyam pendidikan dasar di UPTDN SDN 128 Inpres Minasabaji, Kecamatan Bantimurung.

 

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 4 Bantimurung, sebelum akhirnya menyelesaikan pendidikan menengah di SMA Negeri 4 Bantimurung.

 

Bagi keluarga Latif dan Rosmini, menyekolahkan anak dalam kondisi ekonomi yang terbatas bukanlah perkara mudah.

 

Namun, mereka tetap berusaha agar Hikmal mendapatkan pendidikan. Hingga akhirnya, setelah menyelesaikan pendidikan, Hikmal memilih jalan yang berbeda.

 

Ia memutuskan mengabdikan dirinya melalui TNI Angkatan Darat. Pada 2025, Hikmal memasuki dunia militer.

 

Dari seorang pemuda yang tumbuh dalam keluarga petani di sebuah dusun di Maros, ia mulai menjalani kehidupan baru sebagai prajurit dengan tuntutan disiplin, tanggung jawab dan kesiapan yang tinggi.

 

Dari keluarga kurang mampu menuju tugas negara. Kini, perjuangan tersebut mulai membuahkan hasil.

 

Hikmal disebut menjadi bagian dari prajurit TNI AD yang disiagakan dalam rangka persiapan pengamanan kunjungan Presiden Prabowo Subianto di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau.

 

Sejumlah prajurit TNI AD dari Batalyon Komposit 1/Gardapati dan Kodim 0318 Natuna diketahui berada di Pelabuhan Tarempa untuk mendukung kesiapan pengamanan kunjungan Presiden.

 

Bagi Hikmal, keterlibatan dalam tugas tersebut menjadi pengalaman penting dalam perjalanan pengabdiannya yang masih tergolong muda.

 

Tugas pengamanan kepala negara bukanlah pekerjaan biasa. Setiap personel dituntut memiliki kedisiplinan, kesiapan dan kemampuan menjalankan tugas sesuai prosedur serta arahan yang telah ditentukan.

 

Kebanggaan seorang ayah petani di balik perjalanan Hikmal, ada sosok ayah dan ibu yang selama ini menjadi tempatnya berpijak.

 

Latif dan Rosmini mungkin tidak memiliki kehidupan yang berlimpah secara materi namun, mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih penting: semangat untuk melihat anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.

 

Sebagai seorang petani, Latif menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan. Dari hasil kerja keras itulah keluarga berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mendukung pendidikan anaknya.

 

Kini, ketika Hikmal mengenakan seragam TNI AD dan menjalankan tugas negara, perjuangan kedua orang tuanya seolah mendapatkan jawaban.

 

Anak yang dahulu tumbuh dalam keterbatasan kini berdiri membawa nama keluarganya di tempat yang jauh dari kampung halaman.

 

Membawa nama Bantimurung bagi masyarakat Dusun Manjalling dan Desa Alatengae, perjalanan Hikmal bukan hanya cerita tentang seorang pemuda yang berhasil menjadi prajurit.

 

Ini adalah cerita tentang anak kampung yang berani bermimpi besar ia lahir dari keluarga kurang mampu, dibesarkan oleh seorang ayah petani, bersekolah di Bantimurung, kemudian memilih jalan pengabdian sebagai prajurit TNI AD.

 

Kini, namanya ikut membawa cerita tentang Bantimurung ke luar daerah kisah Hikmal menjadi inspirasi bahwa keterbatasan ekonomi tidak semestinya mematikan cita-cita.

 

Sebab, seseorang tidak harus lahir dari keluarga kaya untuk memiliki masa depan yang besar.

 

Dari rumah sederhana di Dusun Manjalling, seorang anak petani kini mendapat kesempatan menjalankan tugas negara.

 

Perjalanan Hikmal masih panjang namun satu hal telah ia buktikan: mimpi yang dirawat dengan kerja keras, disiplin dan keberanian dapat membawa seorang anak dari pelosok desa berdiri di panggung pengabdian kepada bangsa dan negara. (Lallygeger)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *