TNI/POLRI

EKS KARYAWAN PT WIN HADAPI PERUBAHAN EKONOMI SETELAH AKTIVITAS PERUSAHAAN TERHENTI

×

EKS KARYAWAN PT WIN HADAPI PERUBAHAN EKONOMI SETELAH AKTIVITAS PERUSAHAAN TERHENTI

Sebarkan artikel ini

 

KONAWE SELATAN ,fokustime.id— Berhentinya aktivitas operasional PT Wijaya Inti Nusantara (PT WIN) tidak hanya berdampak pada kegiatan perusahaan, tetapi juga dirasakan langsung oleh pekerja yang selama ini menggantungkan penghasilan dari perusahaan tersebut.

 

Salah satunya dialami Harmoni, warga Desa Wawowonua, Kecamatan Palangga Selatan, Kabupaten Konawe Selatan. Ia mengaku telah bekerja di PT WIN selama lebih dari dua tahun, sejak 2024 hingga pekerjaan terakhirnya berakhir pada 10 Agustus 2026.

 

Harmoni diwawancarai pada Rabu, 26 Agustus 2026. Ia sebelumnya bekerja sebagai operator excavator dengan penghasilan sekitar Rp7 juta hingga Rp8 juta per bulan.

 

Menurut Harmoni, selama masih bekerja di PT WIN, penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terutama kebutuhan pendidikan kedua anaknya yang saat ini masih bersekolah.

 

«“Sebelum berhenti, penghasilan sangat baik dan bisa memenuhi kebutuhan keluarga, terutama kebutuhan anak-anak. Tetapi setelah aktivitas berhenti, semua serba sulit. Kebutuhan sehari-hari saya harus berpikir keras, mau dapat dari mana pekerjaan,” ujar Harmoni.»

 

Ia mengatakan, dirinya tidak memiliki usaha sampingan. Selama ini, pekerjaan di PT WIN menjadi satu-satunya sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

 

Kondisi tersebut berubah setelah aktivitas perusahaan berhenti. Untuk tetap memenuhi kebutuhan keluarga, Harmoni kini bekerja sebagai kuli bangunan. Namun, penghasilan yang diperolehnya jauh lebih kecil dibandingkan ketika masih bekerja di perusahaan.

 

«“Saya jadi kuli bangunan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan sehari-hari, tetapi penghasilannya sangat kecil,” katanya.»

 

Kebutuhan Keluarga Semakin Berat

 

Harmoni mengaku perubahan ekonomi paling terasa pada kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan dua anak yang masih bersekolah, kebutuhan keluarga tetap berjalan meski sumber pendapatan utama telah hilang.

 

Ia menyebut kondisi tersebut bukan hanya dirasakan dirinya, tetapi juga keluarga dan masyarakat sekitar yang selama ini bergantung pada aktivitas perusahaan.

 

«“Sangat terdampak, karena kami masyarakat di sini hanya mencari makan di perusahaan PT WIN,” ungkapnya.»

 

Menurut Harmoni, dampak berhentinya aktivitas perusahaan juga mulai terlihat pada sektor usaha masyarakat. Pedagang, nelayan, dan pelaku usaha lainnya disebut ikut merasakan berkurangnya aktivitas ekonomi.

 

«“Sangat terdampak buat pedagang karena sudah kurang yang belanja. Begitu pun nelayan atau usaha masyarakat, sudah sangat sepi,” ujarnya.»

 

Pengangguran Mulai Terlihat

 

Harmoni melihat perubahan yang cukup jelas di lingkungan masyarakat setelah aktivitas perusahaan terhenti. Salah satu yang paling terlihat adalah meningkatnya jumlah warga yang tidak lagi memiliki pekerjaan tetap.

 

«“Yang paling jelas banyaknya pengangguran dan tidak adanya penghasilan,” katanya.»

 

Bagi Harmoni, persoalan tersebut bukan sekadar kehilangan pekerjaan, tetapi menyangkut keberlangsungan kehidupan keluarga. Ketika penghasilan berkurang drastis, kebutuhan makan, pendidikan anak, dan kebutuhan rumah tangga lainnya tetap harus dipenuhi.

 

Karena itu, ia berharap pemerintah segera mengambil langkah terkait keberlanjutan aktivitas PT WIN, termasuk persoalan RKAB yang menjadi salah satu hal yang dinantikan masyarakat.

 

«“Harapan saya kepada pemerintah, terbitkan secepatnya RKAB. Kami sebagai masyarakat kecil hanya mencari makan untuk keluarga dan kebutuhan sehari-hari. Sampai saat ini sangat sulit. Saya hanya ingin hidup lebih layak. Kami hanya mencari buat makan untuk keluarga,” tutur Harmoni.»

 

Kesaksian Harmoni menggambarkan bagaimana berhentinya aktivitas sebuah perusahaan dapat memberikan efek berantai terhadap pekerja dan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Bagi mereka yang tidak memiliki sumber penghasilan lain, hilangnya pekerjaan berarti harus mencari cara baru untuk bertahan di tengah kebutuhan keluarga yang terus berjalan.

 

Kini, Harmoni memilih menjadi kuli bangunan. Namun di balik pekerjaan tersebut, masih tersimpan harapan agar kondisi perekonomian kembali membaik dan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup pada aktivitas perusahaan dapat kembali memperoleh kesempatan untuk bekerja.

(Erik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *