TNI/POLRI

Jalan Ditutup, Massa Bergerak, Ormas Mekongga Bantah Ada Aktor di Balik Insiden

×

Jalan Ditutup, Massa Bergerak, Ormas Mekongga Bantah Ada Aktor di Balik Insiden

Sebarkan artikel ini

 

KOLAKA,fokustime.id – Ketegangan di Kilometer 12 kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN) PT Indonesia Pomalaa Industry Park (IPIP) menyisakan tanda tanya. Di tengah spekulasi liar, Organisasi Masyarakat (Ormas) Adat Mekongga memilih buka suara—menegaskan bahwa insiden tersebut bukan skenario terstruktur.

Ketua Tamalaki Wuta Kalosara Sultra, Mansiral Usman, menyebut pergerakan massa terjadi secara spontan. Pemicunya sederhana namun sensitif: penutupan akses jalan oleh karyawan PT Tosida Indonesia yang berdampak langsung pada aktivitas logistik masyarakat lokal ujar Minggu (12/4/2026)

Situasi itu, menurut Mansiral, menyentuh urat nadi ekonomi warga. Ketika jalur distribusi tersendat, reaksi pun muncul tanpa komando.

“Ini bukan mobilisasi. Ini respons langsung masyarakat yang merasa aktivitasnya terganggu,” tegasnya.

Narasi liar soal adanya “beking” atau aktor intelektual di balik kejadian tersebut juga dibantah. Ormas menilai tudingan itu tidak berdasar dan justru berpotensi memperkeruh suasana yang mulai kondusif.

Menariknya, kehadiran PT Master Pancang Pondasi (MPP) di lokasi sempat disorot. Namun versi Ormas, perusahaan itu justru berperan sebagai penahan eskalasi, bukan pemicu konflik. MPP disebut membantu meredam potensi tindakan anarkis dari massa.

Dari sisi lain, dinamika di kawasan industri raksasa itu memperlihatkan satu hal penting: hubungan antara investasi besar dan ekonomi lokal masih sangat sensitif. Ketika akses usaha warga terganggu, reaksi sosial bisa muncul cepat, bahkan tanpa koordinasi formal.

Ketua Tamalaki Anoa Mekongga Sultra, Syamsul Rusdin, melihat persoalan ini dalam dua sisi. Di satu sisi, ia mengakui kehadiran IPIP membawa dampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. Ribuan warga disebut telah menikmati efek ekonomi dari proyek tersebut.

Namun di sisi lain, ia mengingatkan bahwa keberlanjutan investasi tidak boleh mengabaikan kepentingan masyarakat sekitar.

“Investasi harus dijaga, tapi hak masyarakat juga tidak boleh diabaikan,” ujarnya.

Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa dukungan Ormas terhadap proyek strategis nasional tidak bersifat tanpa syarat. Mereka siap berdiri di garis depan menjaga stabilitas, namun juga tidak akan tinggal diam jika terjadi pelanggaran.

Saat ini, kondisi di Kilometer 12 dilaporkan telah kembali normal. Aktivitas logistik berjalan seperti biasa. Namun, insiden ini meninggalkan catatan penting: gesekan kecil di kawasan industri bisa cepat membesar jika komunikasi dan pengelolaan kepentingan tidak berjalan seimbang.

Di tengah ambisi hilirisasi nasional, tantangan terbesar bukan hanya pembangunan fisik, tetapi menjaga harmoni antara korporasi dan masyarakat lokal*

 

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *